www.ombudsmanindonesia.com

Breaking News

Terlalu"Mahal" untuk Dilupakan, BHT Semarang Peringati Tragedi Mei ‘98

Ketua Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong, Harjanto Halim (Christian Saputro)
Semarang, -  Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong (BHT) alias Perkumpulan Rasa Dharma, Semarang, rutin menggelar acara peringata Tragedi Mei 1998. Kegiatan rutin peringatan Tragedi Mei 1998 ini biasa diselenggarakan di Gedung Rasa Dharma, Gang Pinggir, Pecinan, Semarang yang sekaligus  merupakan  markas perkumpulan yang berdiri sejak jaman penjajahan Belanda ini.

Tetapi gegara adanya pagebluk pandemik Covid 19 yang sedang melanda  kegiatan ini dilakukan secara online menggunakan aplikasi link Zoom. Pengurus Boen Hian Tong, Hermawan Honggo, mengatakan  kegiatan yang mengusung tajuk : “Refleksi Melawan Lupa” ini akan ditaja secara online pada hari Rabu, mulai pukul 10.00 WIB sampai dengan selesainya acara. Sedangkan untuk pesertanya terbuka untuk umum dengan cara mendaftar ke kontak person HP/WA 081 5993 6115.

“Acaranya ada Refleksi Ita Martadinata yang akan dibawakan oleh Ester Yusuf dari Yayasan Rebung Cendani, Jakarta, doa dan meditasi serta makan rujak pare sambel kecombrang,” terang Hermawan Honggo.

Yang menarik,  lanjut Hernawan, kegiatan peringatan tragedi Mei 1998 di Boen Hian Tong ditandai dengan tradisi makan bersama dengan menu rujak pare sambel kecombrang. Mengapa?

Filosofi Kenangan Luka - Rujak pare sambel kecombrang ,jalan mengenang pahit dan pedasnya tragedi yang dialami Ita Martadinata dalam tragedi Mei 1998.
Menurut Ketua Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong,  Harjanto Halim, rujak pare, simbol kepahitan, kegetiran yang harus ditelan, dimakan dengan sambal bunga kecombrang, sebagai simbol perempuan Tionghoa yang teraniaya, tak berdaya.

Tokoh budayawan Tionghoa ini juga menyadari banyak kaum Tionghoa yang tak sepakat dan kurang sreg dengan kegiatan yang bertujuan untuk melawan lupa. “Ada yang bilang buat apa diingat-ngat. Ndak perlu diungkit-ungkit. Seperti  mengorek luka lama. Kenapa harus melawan lupa. Yang sudah, ya, sudah. Malah bikin trauma. Biarkan waktu yang menyembuhkan,” kata Harjanto suatu kali.

Budayawan yang juga Ketua Kopi Semawis ini juga mengakui bagaiman kalau membayangkan traumanya dan ketakutannya. Harjanto juga  sadar orang Tionghoa memang cenderung mengambil 'sikap aman' seperti itu. Orang Tionghoa atau orang Asia pada umumnya, selalu merasa risih jika harus bicara aib atau malapetaka yang pernah terjadi. “Sudah, sudah, tidak  usah dibicarakan lagi,” begitu yang sering terdengar.

Tapi menurut, tokoh Tionghoa ini,  yang terjadi saat 13 -14 Mei 98,  bukan  sekedar luka iris yang bisa sembuh sendiri. Bukan sekedar kena tilang atau bawahan dimarahi atasan. 

“Tetapi peristiwa Mei adalah sebuah trauma.  Sebuah luka infeksi yang harus diangkat. Tidak bisa sembuh sendiri hanya dibiarkan !," tandasnya.

Harjanto menegaskan , karena semua itu  yang jadi satu alasan mengapa kami memperingati peristiwa ini. Kegiatan ini diharapkan bisa menjadi ajang refleksi untuk saling menguatkan, saling mendengar, saling menyembuhkan. 

“Merasakan kepahitan, trauma, ketakutan, bahkan kebencian sebagai dampak dari peristiwa yang, menurut saya, sangat memalukan ini, " ujar Harjanto prihatin.

Harjanto mengingatkan, tak pernah ada ruang dan waktu yang pernah disediakan untuk menampung segala trauma dan kepahitan. Semua kegundahan terpendam dalam, terucap melalui bisik-bisik lirih dalam sekat-sekat ruang privat. 

“Itulah sebabnya peringatan ini diadakan. Itu sebabnya rujak pare sambal bunga kecombrang disediakan,” imbuhnya.

Sedangkan alasan, yang kedua, lanjut Harjanto, banyak generasi muda, anak-anak milenial, yang tidak tahu, lupa, bahkan meragukan kalau Peristiwa Mei pernah terjadi. Sungguh ironis.

"Peristiwa Mei adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan. Peristiwa Mei terlalu 'mahal' untuk dilupakan, " ucap Harjanto mengingatkan. (Gerrad/CS)

Tidak ada komentar